Berita Lainnya

Pengajian Bulanan Balai Pengujian Perkeretaapian Dengan Tema Bersyukur dan Makna Taat Kepada Allah

07 Oktober 2019

Untuk meningkatkan iman dan takwa pegawai Balai Pengujian Perkeretaapian, pada tanggal 10 Oktober 2019 diadakan pengajian bulanan bersama Ust Muhammad Kholili dengan tema makna taat kepada Allah SWT. Pengajian diawali dengan pembahasan mengenai pentingnya bersyukur setiap hari, karena jika kita selalu mensyukuri nikmat yang diberika maka Allah akan menambah, melipat gandakan nikmat tersebut. Namun sebaliknya, jika kita sebagai insan manusia kufur nikmat, mengingkari apa yang diberika maka niscahaya Allah akan memberikan adzab yang pedih.

 

“… dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)

 

Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur” (QS. Al Baqarah: 152)

 

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An Nahl: 53)

 

(ustad m.kholili sedang menyampaikan ceramahnya)

Makna taat sendiri menurut Ustad Muhammad Kholili yaitu berdiri paling depan, lurus dalam menjalani kepatuhan terhadap Allah SWT, dan diantaranya seperti menuntut ilmu yang baik. Pentingnya memiliki ilmu pun diwajibkan dalam Islam, baik untuk laki-laki maupun perempuan, karena dengan ilmu kita bisa mengetahui jelas mana yang halal mana yang haram, mana yang haq dan mana yang bathil, dan kesemuanya itu memiliki batasan - batasan yang tidak boleh dilewati. 

 

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran Ayat 18)

 

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu….” (QS. An-Nisa [4]: 59)

 

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)

 

Dalam hal ketaatan kepada Allah juga harus dilandasi dengan ilmu dan ilmu harus dilandasi dengan keikhlasan. 4 (empat) poin penting mendatangkan ketaatan, yaitu ilmu, rasa takut terhadap Allah SWT, Adanya harapan atau berharap kepada Allah SWT dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Rasulullah selalu beristigfar sebagai tanda rasa takut kepada sang Maha Pencipta langit dan bumi, Allah SWT. Kita bisa ambil contoh bagaimana Nabi Ibrahim AS menolak tawaran malaikat Jibril untuk membantu beliau dalam berdakwah, "Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir", cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung. Dalam kisah diceritakan, ada seorang ulama besar, yang diakui ilmu dan ketaatannya, beliau selalu menangis dan tak jarang pingsan karena takut jika sampai tidak ada lagi islam di diri kita ketika meninggal.

 

(staf sedang menyimak ceramah)

 

(pembahasan makna taat kepada Allah)

Sesi terakhir diisi dengan pertanyaan, yaitu Ilmu untuk selamat dunia akhirat? adalah ilmu yang baik, adapun amalan yang dapat menyelamatkan kita dunia akhirat antara lain jangan bercita-cita terlalu tinggi sehingga jika tidak kesampaian bisa membuat stress, melalaikan kewajiba Lalu jangan hidup bermewah-mewahan, tamak mengambil hak orang lain, datangkan rasa malu, tidak mau ibadah padahal sudah diberikan semua oleh Allah dan terakhir memperbanyak membaca laa hawlah walakuwata illabillah. Pertanyaan selanjutnya adalah apa kiat-kiat meningkatkan takwa dan apa hubungannya taat dengan takwa? Cara meningkatkan takwa salah satunya dengan bertakwa sebagaimana takwa, menghadiri kajian-kajian di majelis ilmu. lalu pertanyaan yang terakhir adalah bagaimana kita sebagai manusia, mensyukuri nikmat? adalah menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan yang Allah SWT inginkan, nikmat sehat tidak untuk bermaksiat, nikmat harta berbagi dengan orang-orang miskin disekitar kita, jangan sampai kita melakukan sesuatu yang dilarang Allah dengan nikmat yang diberikan dan jangan kufur nikmat.

 



Berita Lainnya